Sabtu, 04 Juni 2016

Analisis Unsur Intrinsik Drama Domba-Domba Revolusi Karya B. Soelarto

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
      Drama merupakan salah satu jenis karya sastra yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Pada umumnya terdapat beberapa jenis drama antara lain : drama komedi, drama tragedi, melodrama, sendratari. Berdasarkan media penghubungnya,  film juga bisa disebut sebagai sebuah drama karena film termasuk dalam drama televisi (audio visual).
Drama merupakan tiruan kehidupan yang dipentaskan diatas panggung. Medium utama dari drama adalah gerak dan dialog. 
      Pada makalah ini akan dikaji secara khusus tentang unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam drama. Unsur intrinsik merupakan unsur yang membangun sebuah karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan suatu teks hadir sebagai teks sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra.

1.2  RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Bagaimana analisis unsur intrinsik drama”Domba-Domba Revolusi” Karya B.Soelarto
1.3  TUJUAN PENULISAN
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui unsur-unsur intrinsik dalam drama”Domba-Domba Revolusi”karya B. Soelarto dan untuk memperolah nilai tugas Mata Kuliah Dramaturgi.

1.4  MANFAAT PENULISAN
1.4.1 Bagi Pembaca
Untuk mengetahui apa saja unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam drama “Domba-Domba Revolusi”Karya B. Soelarto
1.4.2 Bagi Penulis
Bisa menganalisis unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam drama“Domba-Domba Revolusi”Karya B. Soelarto dan memperoleh nilai tugas Mata Kuliah Dramaturgi

1.5  METODE PENULISAN
Karya tulis ini ditulis dengan menggunakan metode pustaka atau dengan menggunakan sumber-sumber tercetak dan media online sebagai dasar penulisan ini.



BAB II
LANDASAN TEORI

2.1.SEJARAH DRAMA

Drama sudah ada sejak abad ke-5 SM.Hal ini didasarkan pada temuan sebuah naskah kuno di Yunani.Penulisnya adalah Aeschilus yang hidup diantara tahun 525-456 SM.isi lakonnya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewi.Sejarah lahirnya drama di Indonesia tidak jauh berbeda dengan kelahiran drama di Yunani.Yang menjadi perbedaannya adalah di barat( Yunani) lebih kental dengan unsur penceritaannya sedangkan di Indonesia lebih kepada unsur kepuitisan dan gaya mantranya.

2.2. PENGERTIAN DRAMA

·             Secara etimologis,drama berasal dari bahasa Yunani “draomai”yang berarti berbuat,bertindak,bereaksi.Jadi kata drama dapat diartikan sebagai perbuatan atau tindakan.
·             Drama adalah karya sastra dalam bentuk percakapan yang dipertunjukan oleh
tokoh-tokoh/pelaku di atas panggung[1]. Drama digolongkan kedalam beberapa bagian yaitu: Drama dalam bentuk tulisan dan Drama yang dipentaskan.
·             Drama adalah salah satu genre sastra yang hidup dalam dua dunia yaitu seni sastra dan seni pertunjukan atau teater[2].
·             Drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan watak melalui tingkah laku atau dialog yang dipentaskan[3].

2.3Unsur Intrinsik Drama
Yang termasuk dalam unsur intrinsik drama adalah:
1.      Tema
-          Tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita[4]
-          Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan menyangkut persamaan atau perbedaan.[5]

2.      Amanat 
Amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca naskah atau penonton drama. Pesan ini tidak disampaikan secara langsung, tapi lewat  naskah drama yang ditulisnya atau lakon drama itu sendiri. Penonton atau pembaca harus menyimpulkan sendiri pesan moral apa yang diperoleh dari membaca naskah atau menonton drama tersebut.
3.      Plot/Alur
Alur/plot ialah jalan cerita  atau rangkaian peristiwa yang membentuk suatu kesatuan cerita.Alur dalam drama dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan.Babak adalah bagian dari plot atau alur dalam sebuah drama yang ditandai oleh perubahan setting atau latar.Sedangkan adegan merupakan babak yang ditandai oleh perubahan jumlah tokoh ataupun perubahan yang dibicarakan. Alur cerita ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian:pengenalan,komplikasi,klimaks,dan penyelesaian.
1.      Pengenalan/Eksposisi.
Pengenalan adalah bagian yang mengantarkan atau memaparkan tokoh, menjelaskan latar cerita, dan gambaran peristiwa yang akan terjadi. Pada tahap ini penonton diperkenalkan dengan tokoh-tokoh drama beserta wataknya, dan fakta-fakta tertentu, baik secara eksplisit maupun implisit
2.      Komplikasi.
Komplikasi merupakan tahap dimana insiden yang terjadi mulai berkembang dan menimbulkan konflik-konflik yang semakin banyak dan ruwet. Banyak persoalan yang kait-mengait, tetapi semuanya masih menimbulkan tanda tanya.
3.      Klimaks.
Klimaks adalah tahapan puncak dari berbagai konflik yang terjadi dalam drama tersebut.Bila dilihat dari sudut pembaca naskah atau penonton drama maka klimaks adalah puncak ketegangan.Bila dilihat dari sudut konflik maka klimaks adalah titik pertikaian paling ujung antar pemain drama.
4.      Resolusi
Dalam tahap ini dilakukan penyelesaian konflik.Jalan keluar penyelesaian konflik-konflik yang terjadi sudah mulai tampak jelas.
4.      Perwatakan/Karakter Tokoh
Perwatakan atau karakter tokoh adalah keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh dalam lakon drama.Karakter ini diciptakan oleh penulis lakon untuk diwujudkan oleh para pemain drama. Tokoh-tokoh drama disertai penjelasan mengenai nama, umur, jenis kelamin, ciri-ciri fisik, jabatan, dan keadaan kejiwaannya. Watak tokoh akan jelas terbaca dalam dialog dan catatan samping. Watak tokoh dapat dibaca melalui gerak-gerik, suara, jenis kalimat, dan ungkapan yang digunakan.
5.      Dialog
Ciri khas suatu drama adalah naskah tersebut berbentuk percakapan atau dialog. Penulis naskah drama harus memerhatikan pembicaraan yang akan diucapkan. Ragam bahasa dalam dialog antar tokoh merupakan ragam lisan yang komunikatif.Dialog melancarkan cerita atau lakon. Dialog mencerminkan pikiran tokoh cerita. Dialog mengungkapkan watak para tokoh cerita. Dialog merupakan hubungan tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Dialog berfungsi menghubungkan tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Dialog juga berfungsi menggerakan cerita dan melihat watak atau kepribadian tokoh cerita.
6.      Latar/Setting
Latar menunjuk pada pengertian tempat,hubungan waktu sejarah,dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan[6].Latar mendukung dan menguatkan tindakan tokoh-tokoh cerita.Latar memberikan pijakan cerita dan kesan realistis kepada pembaca untuk menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi .
7.      Petunjuk Laku
Petunjuk laku sangat diperlukan dalam naskah drama. Petunjuk laku berisi petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, keluar masuknya aktor atau aktris, keras lemahnya dialog, dan sebagainya. Di dalam dialog, petunjuk laku ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau kalimat yang menjadi petunjuk laku.


BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Analisis Unsur Intrinsik Novel Domba-Domba Revolusi karya B. Soelarto
3.1.1 Tema
Tema yang diangkat dalam drama ini adalah tentang para pengkhianat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan juga tentang kisah percintaan antara si penyair dan perempuan

3.1.2 Alur/Plot
Dalam drama “Domba-domba Revolusi” karya B. Soelarto ini alur yang digunakan adalah alur maju cerita berjalan sesuai dengan langkah-langkahnya dimulai dari perkenalan, konflik awal/komplikasi, klimaks, dan penyelesaian.

a.         Eksposisi/pengenalan
Dalam proses pengenalan ini, dibagian awal terlihat si Penyair yang baru sampai dari luar losmen untuk melihat keadaan di luar, kejadian itu terlihat pagi-pagi dan kemudian ketika si Penyair sedang duduk sambil memainkan nada-nada datanglah sang pemilik Losmen dengan senyumnya yang menyejukkan hati si Penyair.Terdapat dalam kutipan berikut:
Di suatu pagi, sekira jam delapan tiga puluh menit, si Penyair sudah tiba kembali di Losmen setelah keluar untuk mencari berita tentang keadaan di luar sejak pagi-pagi.Dia mengambil tempat duduk seenaknya di ruang tamu Losmen yang terletak di bagian depan. Tatkala dia sedang enak mencari nada-nada dan lirik syair lagunya, Muncullah si Pemilik Losmen dari pintu luar dalam dia yang dibalas senyum oleh Penyair. Dengan senyum sejuk serta anggukan kepala sambil menerima hidangannya:

b.        Komplikasi
Masalah mulai timbul ketika si Penyair keluar losmen untuk mencari informasi dan kemudian si Pedagang berpikir ingin mengelabuhi pikiran semua penghuni losmen.Terdapat dalam kutipan berikut:

PEDAGANG     :      
Astaga. . . . Aku menemukan sesuatu. . . .(dengan nafas terengah-engah)
PEREMPUAN   :      
Ada apa ? Pertanda bahayakah. . .??
PENYAIR         :      
Ada yang mengikutimu ?(Sambil memeriksa keadaan luar)pertikaian



c.      Klimaks
Klimaks terlihat ketika semua penghuni losmen terjebak di dalamnya. Dan mereka harus mencari tempat perlindungan dan meloloskan diri agar bisa selamat.Terdapat dalam kutipan berikut:
PENYAIR       :
Jarak tentara dekat sekali dengan kita, kita ada dalam bahaya, sekalipun mereka membela kita !tapi kita ingin terbebas darinya bukan . . . ? Tapi. . . Tak mungkin rasanya.
PEREMPUAN   :      
Jadi maksudmu ?
PEDAGANG     :      
Kita. . . .
PEREMPUAN   :      
Kita ikut didalamnya. Dalam mempertahankan kota Tengah?
PEDAGANG     :      
Begitu maksudmu . . . ??
PENYAIR         :      
Ya. . . Tepat sekali, tak ada jalan lain, setidaknya kita dapat dipercaya.

d.      Resolusi
Pada tahap penyelesaian,drama ini berakhir dengan tanda tanya karena permasalahan itu di akhiri dengan suara bom dan tembakan tanpa diketahui bagaimana nyawa mereka.Terdapat dalam kutipan:
Suara Bom, tembakan, derap langkah Tentara membuka pintu Losmen terbuka dengan kerasnya. . . . . . .


3.1.3 Karakter Tokoh
a.     Perempuan
Perempuan memiliki sifat yang begitu keras dan tidak takut terhadap ancaman dari laki-laki.Hal inilah yang menjadi tokoh sentral dalam drama ini
b.    Penyair
Seorang tokoh yang paling dianggap benar,berani dan suci.
c.    Pedagang
Seorang yang sangat licik,pemeras dan mempunyai niat buruk mengambil kenikmatan dari revolusi kemerdekaan.

3.1.4 Latar
a.    Latar  Tempat
Tempat dalam drama tersebut adalah sebuah kota bernama Kota Tengah dan sebuah Losmen.Terdapat dalam kutipan:
Kita ikut didalamnya.Dalam mempertahankan Kota Tengah? dan
 ....si Penyair sudah tiba kembali di Losmen setelah keluar untuk mencari berita........


b.    Latar Waktu
Waktu pada drama tersebut terjadi pada pagi hari:
Di suatu pagi, sekira jam delapan tiga puluh menit..............

c.    Latar Suasana
Suasana dalam drama tersebut adalah suasana ketika perang:
Suara bom,tembakan,derap langkah tentara membuka pintu losmen itu terbuka dengan kerasnya.........

3.1.5  Petunjuk Laku
Petunjuk laku ini biasanya ditulis dengan menggunakan huruf yang dicetak miring atau huruf besar semua. Di dalam dialog, petunjuk laku ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau kalimat yang menjadi petunjuk laku.
Dalam drama tersebut,petunjuk lakunya adalah:

Pedagang: (Menggeleng) . . . Tidak.

Petunjuk laku dari kutipan tersebut terdapat pada kata yang bercetak miring dan diberi tanda kurung

3.1.6  Dialog
Dialog melancarkan cerita atau lakon. Dialog merupakan percakapan antar dua orang atau lebih dalam sebuah drama.Contoh kutipan Dialog:
PENYAIR          :
Kedengarannya memang aneh. Akan tetapi, begitulah…
PEREMPUAN   :
Lalu apa yang Anda kagumi ?
PENYAIR          :
Pernyataan saudari tadi.
PEREMPUAN   :
Aku tidak mengerti. Coba jelaskan…
PENYAIR          :
Maksudku pernyataan saudari itu. . . .
PEREMPUAN   :      
Ya..Mengapa ??






BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Hasil analisis drama menunjukan bahwa pada berjudul”Domba-Domba Revolusi”Karya B.Soelarto ini memiliki suatu aspek tentang kejiwaan dimana keseluruhan isi drama dibahas dengan menggunakan metode pendekatan psikologi sastra.Hal atau bagian yang berkaitan dengan peristiwa tersebut adalah  ketika penyair memutuskan apakah ia harus jalan untuk berperang atau berbalik menyerang.Berikut kutipannya:
Jarak tentara dekat sekali dengan kita, kita ada dalam bahaya, sekalipun mereka membelakita ! tapi kita ingin terbebas darinya bukan . . . ? Tapi. . . Tak mungkin rasanya.



DAFTAR PUSTAKA

          D,Memen dan Sumiyadi.2014.Sanggar Sastra(Pengalaman Artistik dan estetik Sastra).Bandung: Alvabeta
 Orong,Yohanes.2014.Bahasa dan Sastra Indonesia.Maumere:Ledalero
 Nurgiyantoro,Burhan.2013.Teori Pengkajian Fiksi.Yogjakarta:Gadjah Mada University Press



[1]Y.Orong,Bahasa dan Sastra Indonesia(Maumere,2014)
[2]Sumiyadi,M.Durachman,Sanggar Sastra (pengalaman artistik dan estetik sastra)(Bandung,2014)
[3] KBBI versi offline
[4]B.Nurgiyantoro,”Teori Pengkajian Fiksi”(Yogjakarta:Gadjah Mada University Press,2013),hal.114,mengutip William Kenny,How to Analize Fiction ( New York:Monarch Press,1981),hal 88
[5]B.Nurgiyantoro,”Teori Pengkajian Fiksi”(Yogjakarta:Gadjah Mada University Press,2013),hal.115,mengutipDick Hartoko dan B.Rahmanto,Pemandu di Dunia Sastra( Yogyakarta:Kanisius,1986),hal 142.

[6] B.Nurgiyantoro,”Teori Pengkajian Fiksi”(Yogjakarta:Gadjah Mada University Press,2013),hal.303,mengutip M.H Abrams,A Glosary Of Literary terms(Massachusetts:Heinle & Heinle,1999) hal.284

Tidak ada komentar:

Posting Komentar