BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Drama merupakan salah satu jenis karya
sastra yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Pada umumnya
terdapat beberapa jenis drama antara lain : drama komedi, drama tragedi,
melodrama, sendratari. Berdasarkan media penghubungnya, film juga bisa disebut sebagai sebuah drama
karena film termasuk dalam drama televisi (audio visual).
Drama merupakan
tiruan kehidupan yang dipentaskan diatas panggung. Medium utama dari drama
adalah gerak dan dialog.
Pada makalah ini akan dikaji secara khusus
tentang unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam drama. Unsur intrinsik
merupakan unsur yang membangun sebuah karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur
inilah yang menyebabkan suatu teks hadir sebagai teks sastra, unsur-unsur yang
secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra.
1.2 RUMUSAN
MASALAH
1.2.1
Bagaimana analisis unsur intrinsik drama”Domba-Domba Revolusi” Karya B.Soelarto
1.3 TUJUAN
PENULISAN
Makalah ini dibuat
dengan tujuan untuk mengetahui unsur-unsur intrinsik dalam drama”Domba-Domba
Revolusi”karya B. Soelarto dan untuk memperolah nilai tugas Mata Kuliah
Dramaturgi.
1.4 MANFAAT
PENULISAN
1.4.1 Bagi Pembaca
Untuk mengetahui
apa saja unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam drama “Domba-Domba
Revolusi”Karya B. Soelarto
1.4.2 Bagi Penulis
Bisa menganalisis unsur-unsur intrinsik yang terkandung
dalam drama“Domba-Domba Revolusi”Karya B. Soelarto dan memperoleh nilai tugas
Mata Kuliah Dramaturgi
1.5 METODE
PENULISAN
Karya tulis ini
ditulis dengan menggunakan metode pustaka atau dengan menggunakan sumber-sumber
tercetak dan media online sebagai dasar penulisan ini.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.SEJARAH DRAMA
Drama sudah ada sejak abad ke-5 SM.Hal ini didasarkan
pada temuan sebuah naskah kuno di Yunani.Penulisnya adalah Aeschilus yang hidup diantara tahun 525-456 SM.isi lakonnya berupa
persembahan untuk memohon kepada dewa-dewi.Sejarah lahirnya drama di Indonesia
tidak jauh berbeda dengan kelahiran drama di Yunani.Yang menjadi perbedaannya
adalah di barat( Yunani) lebih kental dengan unsur penceritaannya sedangkan di
Indonesia lebih kepada unsur kepuitisan dan gaya mantranya.
2.2. PENGERTIAN DRAMA
·
Secara
etimologis,drama berasal dari bahasa Yunani “draomai”yang berarti berbuat,bertindak,bereaksi.Jadi
kata drama dapat diartikan sebagai perbuatan atau tindakan.
·
Drama adalah karya
sastra dalam bentuk percakapan yang dipertunjukan oleh
tokoh-tokoh/pelaku di atas panggung[1]. Drama digolongkan kedalam
beberapa bagian yaitu: Drama dalam bentuk tulisan dan Drama yang dipentaskan.
·
Drama adalah salah
satu genre sastra yang hidup dalam dua dunia yaitu seni sastra dan seni
pertunjukan atau teater[2].
·
Drama adalah
komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan watak
melalui tingkah laku atau dialog yang dipentaskan[3].
2.3Unsur Intrinsik Drama
Yang
termasuk dalam unsur intrinsik drama adalah:
1.
Tema
-
Tema adalah makna yang
dikandung oleh sebuah cerita[4]
-
Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah
karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan
menyangkut persamaan atau perbedaan.[5]
2.
Amanat
Amanat
adalah pesan moral yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca naskah atau
penonton drama. Pesan ini tidak disampaikan secara langsung, tapi lewat
naskah drama yang ditulisnya atau lakon drama itu sendiri. Penonton atau
pembaca harus menyimpulkan sendiri pesan moral apa yang diperoleh dari membaca
naskah atau menonton drama tersebut.
3.
Plot/Alur
Alur/plot
ialah jalan cerita atau rangkaian
peristiwa yang membentuk suatu kesatuan cerita.Alur dalam drama dibagi menjadi
babak-babak dan adegan-adegan.Babak adalah bagian dari plot atau alur dalam
sebuah drama yang ditandai oleh perubahan setting atau latar.Sedangkan adegan
merupakan babak yang ditandai oleh perubahan jumlah tokoh ataupun perubahan
yang dibicarakan. Alur cerita ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian:pengenalan,komplikasi,klimaks,dan penyelesaian.
1.
Pengenalan/Eksposisi.
Pengenalan
adalah bagian yang mengantarkan atau memaparkan tokoh, menjelaskan latar
cerita, dan gambaran peristiwa yang akan terjadi. Pada tahap ini penonton
diperkenalkan dengan tokoh-tokoh drama beserta wataknya, dan fakta-fakta
tertentu, baik secara eksplisit maupun implisit
2.
Komplikasi.
Komplikasi
merupakan tahap dimana insiden yang terjadi mulai berkembang dan menimbulkan
konflik-konflik yang semakin banyak dan ruwet. Banyak persoalan yang
kait-mengait, tetapi semuanya masih menimbulkan tanda tanya.
3.
Klimaks.
Klimaks
adalah tahapan puncak dari berbagai konflik yang terjadi dalam drama
tersebut.Bila dilihat dari sudut pembaca naskah atau penonton drama maka
klimaks adalah puncak ketegangan.Bila dilihat dari sudut konflik maka klimaks
adalah titik pertikaian paling ujung antar pemain drama.
4.
Resolusi
Dalam
tahap ini dilakukan penyelesaian konflik.Jalan keluar penyelesaian
konflik-konflik yang terjadi sudah mulai tampak jelas.
4.
Perwatakan/Karakter
Tokoh
Perwatakan
atau karakter tokoh adalah keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh dalam lakon
drama.Karakter ini diciptakan oleh penulis lakon untuk diwujudkan oleh para
pemain drama. Tokoh-tokoh drama disertai penjelasan mengenai nama, umur, jenis
kelamin, ciri-ciri fisik, jabatan, dan keadaan kejiwaannya. Watak tokoh akan
jelas terbaca dalam dialog dan catatan samping. Watak tokoh dapat dibaca
melalui gerak-gerik, suara, jenis kalimat, dan ungkapan yang digunakan.
5.
Dialog
Ciri
khas suatu drama adalah naskah tersebut berbentuk percakapan atau dialog.
Penulis naskah drama harus memerhatikan pembicaraan yang akan diucapkan. Ragam
bahasa dalam dialog antar tokoh merupakan ragam lisan yang komunikatif.Dialog
melancarkan cerita atau lakon. Dialog mencerminkan pikiran tokoh cerita. Dialog
mengungkapkan watak para tokoh cerita. Dialog merupakan hubungan tokoh yang
satu dengan tokoh yang lain. Dialog berfungsi menghubungkan tokoh yang satu
dengan tokoh yang lain. Dialog juga berfungsi menggerakan cerita dan melihat
watak atau kepribadian tokoh cerita.
6.
Latar/Setting
Latar menunjuk pada pengertian
tempat,hubungan waktu sejarah,dan lingkungan sosial tempat terjadinya
peristiwa-peristiwa yang diceritakan[6].Latar mendukung dan menguatkan tindakan tokoh-tokoh
cerita.Latar memberikan pijakan cerita dan kesan realistis kepada pembaca untuk
menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi .
7.
Petunjuk
Laku
Petunjuk
laku sangat diperlukan dalam naskah drama. Petunjuk laku berisi petunjuk teknis
tentang tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, keluar masuknya aktor atau
aktris, keras lemahnya dialog, dan sebagainya. Di dalam dialog, petunjuk laku
ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau
kalimat yang menjadi petunjuk laku.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Analisis Unsur Intrinsik Novel Domba-Domba Revolusi
karya B. Soelarto
3.1.1 Tema
Tema yang diangkat dalam drama ini
adalah tentang para pengkhianat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan
juga tentang kisah percintaan antara si penyair dan perempuan
3.1.2 Alur/Plot
Dalam drama “Domba-domba
Revolusi” karya B. Soelarto ini alur yang digunakan adalah alur maju cerita
berjalan sesuai dengan langkah-langkahnya dimulai dari perkenalan, konflik awal/komplikasi, klimaks, dan penyelesaian.
a.
Eksposisi/pengenalan
Dalam proses pengenalan ini, dibagian
awal terlihat si Penyair yang baru sampai dari luar losmen untuk melihat
keadaan di luar, kejadian itu terlihat pagi-pagi dan kemudian ketika si Penyair
sedang duduk sambil memainkan nada-nada datanglah sang pemilik Losmen dengan
senyumnya yang menyejukkan hati si Penyair.Terdapat
dalam kutipan berikut:
Di suatu pagi, sekira jam delapan tiga puluh
menit, si Penyair sudah tiba kembali di Losmen setelah keluar untuk mencari
berita tentang keadaan di luar sejak pagi-pagi.Dia mengambil tempat duduk
seenaknya di ruang tamu Losmen yang terletak di bagian depan. Tatkala dia
sedang enak mencari nada-nada dan lirik syair lagunya, Muncullah si Pemilik
Losmen dari pintu luar dalam dia yang dibalas senyum oleh Penyair. Dengan
senyum sejuk serta anggukan kepala sambil menerima hidangannya:
b.
Komplikasi
Masalah mulai
timbul ketika si Penyair keluar losmen untuk mencari informasi dan kemudian si Pedagang berpikir ingin mengelabuhi pikiran semua
penghuni losmen.Terdapat dalam kutipan berikut:
|
PEDAGANG :
|
Astaga. . . . Aku menemukan sesuatu. . . .(dengan
nafas terengah-engah)
|
|
PEREMPUAN :
|
Ada apa ? Pertanda bahayakah. . .??
|
|
PENYAIR :
|
Ada yang mengikutimu ?(Sambil memeriksa
keadaan luar)pertikaian
|
c.
Klimaks
Klimaks
terlihat ketika semua penghuni losmen
terjebak di dalamnya. Dan mereka harus mencari tempat perlindungan dan
meloloskan diri agar bisa selamat.Terdapat
dalam kutipan berikut:
|
PENYAIR :
|
Jarak tentara dekat sekali dengan kita, kita
ada dalam bahaya, sekalipun mereka membela kita !tapi kita ingin terbebas
darinya bukan . . . ? Tapi. . . Tak mungkin rasanya.
|
|
PEREMPUAN :
|
Jadi maksudmu ?
|
|
PEDAGANG :
|
Kita. . . .
|
|
PEREMPUAN :
|
Kita ikut didalamnya. Dalam mempertahankan
kota Tengah?
|
|
PEDAGANG :
|
Begitu maksudmu . . . ??
|
|
PENYAIR :
|
Ya. . . Tepat sekali, tak ada jalan lain,
setidaknya kita dapat dipercaya.
|
d.
Resolusi
Pada tahap penyelesaian,drama ini berakhir dengan tanda
tanya karena permasalahan itu di akhiri dengan suara bom dan tembakan tanpa
diketahui bagaimana nyawa mereka.Terdapat dalam kutipan:
Suara Bom,
tembakan, derap langkah Tentara membuka pintu Losmen terbuka dengan kerasnya. . . . . . .
3.1.3 Karakter Tokoh
a.
Perempuan
Perempuan memiliki sifat yang begitu keras dan tidak
takut terhadap ancaman dari laki-laki.Hal inilah yang menjadi tokoh sentral
dalam drama ini
b.
Penyair
Seorang tokoh yang paling dianggap benar,berani dan suci.
c.
Pedagang
Seorang yang
sangat licik,pemeras dan mempunyai niat buruk mengambil kenikmatan dari
revolusi kemerdekaan.
3.1.4 Latar
a.
Latar Tempat
Tempat dalam drama tersebut adalah sebuah kota bernama
Kota Tengah dan sebuah Losmen.Terdapat dalam kutipan:
Kita ikut didalamnya.Dalam mempertahankan Kota Tengah? dan
....si Penyair sudah tiba kembali di Losmen setelah keluar untuk mencari berita........
b.
Latar Waktu
Waktu pada
drama tersebut terjadi pada pagi hari:
Di suatu pagi, sekira jam delapan tiga puluh menit..............
c.
Latar Suasana
Suasana dalam drama tersebut adalah suasana ketika
perang:
Suara bom,tembakan,derap langkah
tentara membuka pintu losmen itu terbuka dengan kerasnya.........
3.1.5
Petunjuk
Laku
Petunjuk laku ini biasanya ditulis dengan menggunakan huruf
yang dicetak miring atau huruf besar semua. Di dalam dialog, petunjuk laku
ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau
kalimat yang menjadi petunjuk laku.
Dalam drama tersebut,petunjuk lakunya adalah:
Pedagang: (Menggeleng) . . . Tidak.
Petunjuk laku
dari kutipan tersebut terdapat pada kata yang bercetak miring dan diberi tanda
kurung
3.1.6 Dialog
Dialog
melancarkan cerita atau lakon. Dialog merupakan percakapan antar dua orang atau lebih dalam
sebuah drama.Contoh kutipan Dialog:
|
PENYAIR
:
|
Kedengarannya memang aneh. Akan tetapi,
begitulah…
|
|
PEREMPUAN :
|
Lalu apa yang Anda kagumi ?
|
|
PENYAIR
:
|
Pernyataan saudari tadi.
|
|
PEREMPUAN :
|
Aku tidak mengerti. Coba jelaskan…
|
|
PENYAIR
:
|
Maksudku pernyataan saudari itu. . . .
|
|
PEREMPUAN
:
|
Ya..Mengapa ??
|
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Hasil analisis drama menunjukan bahwa pada
berjudul”Domba-Domba Revolusi”Karya B.Soelarto ini memiliki suatu aspek tentang
kejiwaan dimana keseluruhan isi drama dibahas dengan menggunakan metode
pendekatan psikologi sastra.Hal atau bagian yang berkaitan dengan peristiwa
tersebut adalah ketika penyair
memutuskan apakah ia harus jalan untuk berperang atau berbalik
menyerang.Berikut kutipannya:
Jarak
tentara dekat sekali dengan kita, kita ada dalam bahaya, sekalipun mereka
membelakita ! tapi kita ingin terbebas darinya bukan . . . ? Tapi. . . Tak
mungkin rasanya.
DAFTAR PUSTAKA
D,Memen
dan Sumiyadi.2014.Sanggar
Sastra(Pengalaman Artistik dan estetik Sastra).Bandung: Alvabeta
Orong,Yohanes.2014.Bahasa dan Sastra Indonesia.Maumere:Ledalero
Nurgiyantoro,Burhan.2013.Teori Pengkajian Fiksi.Yogjakarta:Gadjah Mada University Press
[2]Sumiyadi,M.Durachman,Sanggar
Sastra (pengalaman artistik dan estetik sastra)(Bandung,2014)
[3]
KBBI versi offline
[4]B.Nurgiyantoro,”Teori Pengkajian Fiksi”(Yogjakarta:Gadjah Mada University
Press,2013),hal.114,mengutip William Kenny,How
to Analize Fiction ( New York:Monarch Press,1981),hal 88
[5]B.Nurgiyantoro,”Teori Pengkajian Fiksi”(Yogjakarta:Gadjah Mada University
Press,2013),hal.115,mengutipDick Hartoko dan B.Rahmanto,Pemandu di Dunia Sastra( Yogyakarta:Kanisius,1986),hal 142.
[6] B.Nurgiyantoro,”Teori Pengkajian Fiksi”(Yogjakarta:Gadjah Mada University
Press,2013),hal.303,mengutip M.H Abrams,A
Glosary Of Literary terms(Massachusetts:Heinle & Heinle,1999) hal.284
Tidak ada komentar:
Posting Komentar